Home Nasional Merenangi Bait-Bait Kitab Suci dalam “Lelaki Pembawa Mushaf”

Merenangi Bait-Bait Kitab Suci dalam “Lelaki Pembawa Mushaf”

12
0
SHARE
Iklan by Don

Oleh Bambang Kariyawan

Karya yang ikhlas akan melahirkan kejujuran.

Itulah petikan kalimat motivasi dari penulis novel perempuan Riau, Nafiah Al Ma’rab dengan nama asli Sugiarti dalam acara bedah novelnya. Novel ini merupakan novel kedua yang ditulis setelah Jodohku dalam Proposal, dan kini hadir Lelaki Pembawa Mushaf (LPM) (Tim Medina Creative Imprint of Tiga Serangka,  Solo: 2016, 208 h). Riau sebagai provinsi literasi dalam pelaksanaannya masih harus berjuang keras menjaga serta merawat julukan itu.

Kehadiran novel LPM, salah satu jawaban dari perjuangan itu. Jarang-jarang dalam kondisi saat ini dari bumi Lancang Kuning hadir novel-novel yang diterima di kalangan pembaca nasional. Geliat pernovelan di Riau dengan hadirnya LPM menjadi titik bangkit pasca Ganti Award yang sempat menghilang. Ajang apresiasi penulis-penulis novel di Riau ini.

Tema novel ini sangat penting bagi kita dalam menjalani kehidupan terkhusus sebagai umat Islam. Tema tentang mendalami kitab suci Alquran, tema yang jarang dilirik atau bahkan tidak terpikir kalau dapat diangkat menjadi cerita yang sangat menarik. Terkadang yang sederhana bila dipoles dengan cara yang bernilai maka akan bernilai pula penampilan dan isinya.

Kesederhanaan disinilah justeru kelebihan penulis mengangkatnya dalam kisah-kisah yang seru untuk dinikmati. Tentunya tema sederhana ini menjadi istimewa karena lahir dari pejuang tinta dakwah yang telah menghabiskan asam garam dunia kepenulisan. Nafi’ah Al Ma’rab telah teruji kepenulisannya dalam berbagai lomba kepenulisan, organisasi kepenulisan, dan karya-karya kepenulisan.

Novel ini bertutur tentang kesungguhan laku seorang pemuda yang ingin belajar membaca Alquran,. Berkisah tentang seorang lelaki, Khalid yang kecewa pada mantan kekasihnya, tetapi kekecewaan itu membawa titik balik perubahannya pada hidupnya. Memang terkadang proses jatuh ke titik nadir dalam kehidupan terkadang menjadi titik balik dalam hidup seseorang. Hidayah diberikan Allah dalam berbagai situasi yang manusia tidak pernah menduganya. “Pelarian” positif dengan mendekati Alquran, sebagai media pelampiasan masalahnya. Jatuh bangun untuk belajar dan menjadi penghafal Alquran,dilaluinya.

Kisah perjuangan dalam merenangi bait-bait Alquran,menjadi menarik dengan dibumbui perjalinan kisah “Adam dan Hawa”. Hubungan lelaki dan perempuan memang takkan pernah habis untuk diangkat sebagai bumbu gurih dalam cerita. Bumbu-bumbu percintaan yang dibungkus dengan nilai-nilai Islami terasa bergetar sekaligus menyesakkan. Mengharubiru melihat jalinan kasih antara Khalid dan Syafira. Menyesakkan saat kemunculan tokoh Wahyuni sebagai wanita penggota rumah tangga Sofyan dan Syafira. Serta ending kejutan dengan memunculkan tokoh perempuan lain yang tidak disebut dalam awal dan tengah cerita menjadi pendamping hidup tokoh utama Khalid. Penulis novel yang baik selalu menyimpan tokoh-tokoh untuk dimunculkan pada saat yang tepat.

Novel ini perlu dibaca karena ada pesan terselubung untuk kita mencintai Alquran,. Kita akan menemukan gairah yang berbeda ketika membaca novel dibandingkan ketika mengkaji dari buku panduan teknik membaca Alquran. Novel ini membawa pembaca berimajinasi tentang arti bangkit dari keterpurukan, membangun semangat, dan istiqomah dalam memperbaiki diri. Di sinilah letak fungsi novel sebagai fungsi edukasi masyarakat harus memberikan energi semangat pembaca untuk menjadi pribadi yang selalu lebih baik setiap saatnya.

Let’s block ads! (Why?)

Source link

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here