Home Nasional Kisah 3 Bocah Gowes Sepeda dari Palembang Lewat Lampung

Kisah 3 Bocah Gowes Sepeda dari Palembang Lewat Lampung

9
0
SHARE
Iklan by Don

FOTO BERSAMA: Direktur Teknis dan Operasional PT ASDP Indonesia Ferry La Mane (keempat dari kanan), Vice President Services and Assurance ASDP Rizki Dwianda (bertopi), dan GM ASDP Bakauheni Eddy Hermawan (paling kanan) berfoto bersama tiga bocah pengayuh sepeda. FOTO PT ASDP (PERSERO) BAKAUHENI FOR RADAR LAMPUNG

radarlampung.co.id – Demi bisa berlebaran dengan sang ibu, tiga bocah nekat mengayuh sepeda dari rumah nenek mereka di Palembang, Sumatera Selatan, menuju Ciledug, Tangerang, Banten, tempat tinggal orang tuanya. Aksi ketiganya sempat ”menghebohkan” media sosial.

Laporan Wartawan JPG–Agung B, PALEMBANG-BANDARLAMPUNG

TIGA bocah itu bernama Muhammad Okta Firmansyah (15) dan adiknya, Muhammad Afrizal (13), serta Aslam Alamsyah (11), anak tetangga mereka di Tangerang. Ketiganya sempat ”terdampar” di Indralaya, Ogan Ilir (OI), tepat pada hari raya Idul Fitri, Minggu (25/6). Ketika itu, sekitar pukul 12.30 WIB, mereka tiba di Pos Pelayanan (Pos Yan) Km 32 Indralaya.

”Kami mau naik truk. Tetapi, tidak ada truk yang lewat,” ujar Aiptu Syukrial, petugas Pos Yan Km 32, menirukan penuturan Rizal cs. Saat datang ke pos, tiga bocah itu membawa dua sepeda butut yang dikendarai dari rumah nenek mereka di Palembang.

Lantaran dianggap menempuh perjalanan ”tidak lazim”, tiga bocah tersebut lantas dikirim ke Panti Sosial Dharmapala Km 32. Tidak jauh dari Terminal 32 Indralaya. ”Saya sendiri yang mengantar,” ujar Syukrial kepada Sumatera Ekspres (grup Radar Lampung) yang menemuinya kemarin (30/6).

Di panti, mereka diperlakukan dengan baik. Mereka mendapat tempat istirahat di bangunan paling belakang. Kondisi tiga bocah tersebut tampak kusut, kelelahan. Pakaian mereka juga lusuh dan tanpa bekal yang cukup untuk bepergian jauh. ”Mereka lalu saya minta mandi dan setelah itu makan,” ujar Wismantoro, pengurus panti.

Begitu mereka selesai makan, 30 menit kemudian turun hujan deras. ”Saya iseng cek ke asrama, tempat anak-anak itu istirahat. Eh, ternyata mereka sudah tidak ada di kamar,” jelas Wismantoro.

Anak-anak itu, rupanya, kabur. Padahal, kata Wismantoro, besoknya mereka dicarikan bus ke arah tujuan dan dititipkan kepada sopir bus. ”Tapi, itu tadi, mereka keburu kabur,” tuturnya.

Wismantoro belum sempat memperoleh data detail tentang tiga bocah tersebut. ”Saat ditanya alamat, jawabnya simpang siur. Katanya di Ciledug, asal Palembang,” ungkapnya.

Pengakuan lain, orang tuanya bernama Nasir. Bekerja di PO Arya Prima. ”Sebagai sopir atau kernet, mereka tidak bisa menjelaskan secara detail,” katanya. ”Ini nomor telepon Pak Dori, teman ayahnya,” kata Wismantoro sembari menyerahkan secarik kertas berisi nomor handphone.

Dari Dori, wartawan koran ini mengantongi alamat tiga bocah itu. Yakni Jl. Merdeka, Lr. Pangeran Marto No. 167, RT 10/RW 4, Kelurahan 19 Ilir, Bukit Kecil, Palembang. Penghuninya adalah Iskandar dan Megawati yang tak lain adalah kakek dan nenek bocah itu. ”Iya benar, saya neneknya Rizal,” ujar Megawati ramah.

Duduk lesehan di ruang tamu, sebuah rumah sederhana, Megawati yang biasa dipanggil Wak Era terdengar mengeluh ketika koran ini menyebut nama tiga cucunya yang nekat pulang ke Ciledug dengan hanya bersepeda BMX. ”Anak-anak itu memang suka nekat. Waduh…,” katanya, lantas menghela napas dalam-dalam.

Menurut Wak Era, Rizal dan Okta adalah cucu dari anaknya yang bernama Sulastri dan menantunya, Muhammad Nasir, 41. Sedangkan Aslam adalah tetangga di Tangerang. ”Rizal sama Okta sudah lama tidak ke Palembang,” jelasnya.

Hanya, pada Ramadan lalu, dua cucunya itu ke Palembang. Tepatnya sehari sebelum bulan puasa, Sabtu (27/5). ”Waktu buka pintu, sekitar pukul 04.00 subuh, saya terkejut lihat mereka datang. Saya tanya siapa yang mereka ajak (Aslam), katanya tetangga di Tangerang,” katanya.

Selama Ramadan di rumah neneknya di Palembang, ketiganya juga menjalankan puasa. Rizal dan Aslam rajin berpuasa. Nah, sehari sebelum Lebaran, Sabtu (24/6), Okta mendapat telepon dari adiknya, Jefri, yang mengabarkan bahwa ayah dan ibunya bertengkar hebat. Mereka diminta segera pulang untuk mengurus empat adiknya yang lain. ”Setelah dapat telepon itulah mereka pengin balik (pulang, Red) ke Tangerang,” jelas Wak Era.

Ketika itu, sang nenek sedang tidak enak badan. Dia tak bisa mengantar ketiga bocah pulang. ”Mereka baleknyo (pulangnya) jam duo (14.00 WIB). Saya cuma kasih uang untuk bekal balik,” ungkapnya.

Sementara itu, Muhammad Afrizal masih terlihat kelelahan saat ditemui di rumahnya, kawasan Kelurahan Kereo, Tangerang Kota, kemarin (30/6). Maklum, dia baru sampai rumahnya pukul 01.00. Bocah 13 tahun itu baru saja melakukan perjalanan selama enam hari dari Palembang ke Tangerang. ”Saya kangen sama orang tua,” katanya saat ditanya alasannya melakukan perjalanan nekat tersebut.

Sebenarnya ini bukan perjalanan nekat pertama tiga bocah itu. Sebulan lalu Rizal, Okta, dan Aslam juga nekat ke Palembang. Mereka pergi ke rumah kakek dan neneknya tersebut dengan menumpang truk.

Rizal yang sering ikut ayahnya, Muhammad Nasir, ke Palembang merasa tahu jalan menuju rumah neneknya. Untuk itu, dia merasa percaya diri ketika pergi ke Palembang bersama Okta dan Aslam. Ketika sampai Palembang, barulah ketiganya menyampaikan pesan via Facebook kepada sepupunya yang tinggal tak jauh dari rumah orang tuanya di Tangerang.

Sabtu (24/6), tepatnya saat malam takbiran, niat untuk bertemu orang tua semakin besar. Rizal kemudian nekat meminjam sepeda BMX sepupunya untuk pulang. Tetapi, dia meminjam tanpa izin yang punya.

Mereka membawa bekal uang Rp 150 ribu. ”Uang itu tabungan hasil jualan tas keresek,” kata Rizal. Sayang, uang Rp 150 ribu hanya bisa digunakan untuk naik bus dan makan. Dari Palembang hingga Terminal Rajabasa, Lampung. Padahal, dari Terminal Rajabasa ke Pelabuhan Bakauheni, jaraknya masih jauh. Lebih dari 60 kilometer.

Perut lapar selama di perjalanan harus ditahan. Pasalnya, uang tersisa hanya untuk ongkos kapal. Ketiganya tidak mau mengemis. ”Sempat dikasih makan dan uang sama ibu-ibu. Lainnya saya ngamen,” cerita Rizal.

Banyak pengalaman seru yang mereka alami. Yang diingat adalah mereka dikejar anjing saat berada di tengah hutan. Mereka harus mengayuh lebih kuat lagi. Rizal yang membonceng Aslam pun ngos-ngosan. Namun tak pantang menyerah. Kecelakaan kecil pun mereka alami.

Sambil menunggu Okta, Aslam dan Rizal beristirahat di pos PT Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (ASDP) Indonesia Ferry di RM Begadang IV, Panjang, Bandarlampung. Saat itulah mereka bertemu dengan Rizki Dwianda, vice president services and assurance PT ASDP. Mereka menyorongkan uang Rp20 ribu untuk memberi tiket.

”Saya tanya orang tuanya mana. Aslam bilang datang dengan kakaknya,” ucap Rizki. Si kakak yang disebutkan Aslam itu adalah Rizal. Rizki pun menanyakan latar belakang mereka hendak menyeberang ke Jawa.

Berselang satu jam, Okta datang. Barulah Rizki mulai percaya bahwa tiga anak tersebut akan mudik ke Tangerang, tetapi tidak punya uang. ”Saya sempat ajak mereka makan dulu. Setelahnya, saya seberangkan pakai mobil,” tutur Rizki.

Pertemuan di pos ASDP itu juga membuat ketiganya mendapatkan tambahan uang saku. Beberapa orang dari ASDP memberikan uang bekal untuk ketiganya. ”Saya pesan, uang ini untuk orang tua mereka,” imbuh Rizki.

Budiyanto, manajer keuangan ASDP Bakahueni yang turut bertemu dengan ketiganya, menuturkan jika kondisi ketiganya awal itu lusuh, dalam kondisi kelelahan dan penuh keringat.

Di rumah, Sulastri dan Muhammad Nasir, suaminya, belum mendapat kabar bahwa anaknya pulang dari Palembang. ”Jam 01.00 ada rombongan bawa anak saya. Ada wartawan. Saya takut,” tutur Sulastri. Mereka pikir anak-anaknya membuat onar.

Setelah mendapat penjelasan, akhirnya perempuan 40 tahun itu paham. Air matanya meleleh ketika mendengar cerita anaknya. ”Kalau tahu, ya tidak bakal saya bolehkan (pulang dengan naik sepeda, Red). Tetapi kalau kami harus nyusul ke Palembang juga nggak ada ongkos,” katanya. Sementara itu, Aslam dan Okta tidak banyak cerita ketika wartawan datang. ”Saya kapok,” ujar Aslam. (c1/wdi)

– Advertisement –

loading…

Let’s block ads! (Why?)

Source link

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here