Home Nasional Boikot Starbucks karena CEO Dukung LGBT? Munafik! Ini Buktinya

Boikot Starbucks karena CEO Dukung LGBT? Munafik! Ini Buktinya

7
0
SHARE
Iklan by Don

Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah menyerukan boikot terhadap produk Starbucks. Boikot tersebut sebenarnya merupakan boikot ‘ngelag’ dari Anwar Abbas, Ketua Bidang Ekonomi PP Muhammadiyah. Mungkin prosesor yang masih dipakai masih terlalu cupu untuk meresponi statement Howard Schultz, CEO Starbucks yang sudah dikatakan sejak tahun 2013. Mengapa baru sekarang? Pertanyaan menarik muncul dari rekan saya ketika mengirimkan pesan di WhatsApp saya. Saya baru menyelidiki bahwa statement Schultz sudah lama. Lantas mengapa tiba-tiba Muhammadiyah baru sekarang mulai ‘kejang-kejang’?

“Sudah saatnya pemerintah Indonesia mempertimbangkan untuk mencabut izin Starbucks di Indonesia karena ideologi bisnis dan pandangan hidup yang mereka dukung dan kembangkan jelas-jelas tidak sesuai dan sejalan dengan ideologi bangsa kita yaitu Pancasila… Dari beberapa media diketahui bahwa sikap dari Howard Schultz CEO Starbucks jelas-jelas sangat mendukung gerakan gay atau LGBT. Bahkan dalam rapat pemegang saham dari perusahaan tersebut, yang bersangkutan mengatakan jika ada di antara pemegang saham saat ini ada yang tidak mendukung perkawinan sejenis yang diperjuangkannya, maka silakan menjual sahamnya dan melakukan investasi di tempat lain,” ujar Ketua Bidang Ekonomi PP Muhammadiyah, Anwar Abbas dalam keterangannya, Jumat (30/6/2017).

Muhammadiyah berdalih dan memberikan alasan mereka di dalam seruan boikot mereka. Mereka khawatir kalau keuntungan yang didapatkan oleh Starbucks di Indonesia, sebagian uangnya akan digunakan untuk melakukan legalisasi LGBT ataupun perkawinan sejenis baik secara langsung atau pun tidak langsung.

Inilah yang menjadi sebuah alasan yang sebenarnya terlalu prematur untuk dibicarakan. Setidaknya ada beberapa alasan kuat dari saya untuk mengatakan hal ini merupakan hal yang prematur.

Pertama, Muhammadiyah terlalu banyak berasumsi mengenai hal ini. Starbucks dikelola oleh MAP (Mitra Adiperkasa) Club yang juga merupakan pengelola bisnis besar di Indonesia. Setidaknya ada lima segmen pasar yang dipegang oleh MAP, yakni Department Stores, Fashon, Sports, Kids, Food and Beverages. Tentu di dalam pengelolaan MAP secara komprehensif, keuangan dari setiap brand yang tergabung di dalamnya pun dikelola secara profesional, dan sesuai dengan aturan perundang-undangan di Indonesia.

Maka alasan ‘pembagian keuntungan kepada kaum LGBT di luar negeri’ yang dicetuskan Muhammadiyah untuk memboikot Starbucks, terbantahkan. Tidak ditemukan benang merah antara pembagian keuntungan dan pemboikotan Starbucks di Indonesia.

Kedua, di dalam melakukan boikot Starbucks, Muhammadiyah tidak memikirkan kelanjutan pekerjaan yang diperoleh secara susah payah oleh para pekerja di Starbucks. Mereka yang bekerja di Starbucks, kebanyakan merupakan orang-orang lokal yang dilatih untuk mengolah kopi.

Pelayan Starbucks tentu terancam dengan seruan boikot prematur yang dikeluarkan oleh Ketua Bidang Ekonomi Muhammadiyah. Bukankah seharusnya di dalam mengeluarkan statement, harus didahului oleh riset yang mendalam, apalagi statemen tersebut dikeluarkan oleh orang yang (seharusnya) mengerti ekonomi.

Ketiga, kita tahu bahwa bukan hanya di Indonesia seruan boikot Starbucks membahana. Di Amerika pun, seruan boikot Starbucks dilakukan oleh para pendukung Donald Trump. Pernyataan Starbucks yang berniat mempekerjakan 10.000 pengungsi di seluruh dunia sebagai bentuk perlawanan terhadap kebijakan anti-imigran Donald Trump langsung ditanggapi dengan tagar #BoycottStarbucks.

Alasan ini sama tidak masuk akalnya dengan alasan Muhammadiyah. Kita tahu bahwa Donald Trump memiliki kedekatan dengan Hary Tanoe. Ya, sampai sini saja hubungan antara Donald Trump dan Hary Tanoe, tidak akan saya lanjutkan. Hehehe.

“Pada saat Presiden Trump memperjuangkan lapangan pekerjaan untuk rakyat AS, CEO Starbucks malah ingin mempekerjakan 10.000 pengungsi. Bagaimana dengan kami?#BoycottStarbucks,” ujar pengguna Twitter, Scott Presler.

Keempat, Schultz sudah mundur dari jabatannya sebagai CEO. Dilansir dari website seattletimes.com, per 2 April 2017 Schultz sudah tidak menjadi CEO dari perusahaan kopi terbesar di dunia, Starbucks. Ia tetap menjadi orang penting di Starbucks, namun tidak bersentuhan lagi dengan keuangan. Ia menjadi bagian eksekutif yang berfokus kepada pengembangan perusahaan untuk bisnis premium, termasuk di dalam perbaikan kualitas dan pemajuan brand. Jadi statement Schultz di dalam mendukung LGBT, sudah kadaluwarsa. Sekarang Schultz sudah tidak berperan sebagai CEO.

Kelima, Starbucks sedang berencana untuk mempekerjakan sekitar 2.500 imigran di Eropa. Dengan hal ini, justru membuktikan bahwa Starbucks secara internasional memikirkan seluruh aspek di dalam kehidupan dan kesejahteraan rakyat. Dengan apa yang dikerjakan oleh Starbucks di dalam memikirkan keseluruhan aspek, akan terdapat beberapa masalah, khususnya pada kaum marginal.

Pemerintah Indonesia pun diminta untuk mencabut izin operasional Starbucks yang menjamur dan begitu heboh di Indonesia. Melihat hal tersebut, para netizen pun sontak memberikan respon yang bermacam-macam, bahkan sampai menjadi trending topic dunia.

Wakil Ketua Komite III DPD RI Fahira Idris mendesak pemerintah bersikap tegas dengan mencabut izin Starbucks di Indonesia. Selain itu, katanya, harus ada gerakan bersama atau sinergi terutama ormas-ormas keagamaan yang didukung oleh berbagai komunitas untuk mengkampanyekan tidak membeli produk-produk Starbucks sebagai akibat sikap mereka yang mendukung propaganda LGBT dan pernikahan sesama jenis.

Fahira menegaskan, jika perlu ada fatwa organisasi keagamaan yang mengimbau dan melarang jamaah atau anggotanya untuk membeli semua produk Starbucks. Hal tersebut penting dilakukan karena apa yang Starbucks dukung dan kampanyekan, bukan hanya tidak sesuai semua agama yang ada di Indonesia tetapi juga bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila.

Rekam jejak sosial media memang kejam, jika ketua bidang ekonomi PP Muhammadiyah menyerukan boikot Starbucks, silakan lihat gambar di bawah ini, semoga Anda tidak kejang-kejang.

Rasa-rasanya, tidaklah berlebihan jika kita jatuh kepada kesimpulan bahwa seruan boikot dengan alasan LGBT adalah alasan yang sangat prematur. Setidaknya lima alasan yang saya tuliskan di atas ini menjadi sebuah penjelasan yang tidak bisa dibantah oleh Kabid Ekonomi Muhammadiyah Anwar Abbas, bahkan oleh perempuan bernama Fahira Idris, yang juga menikmati produk Starbucks. Jika hanya karena LGBT, silakan boikot iPhone, CEO Tim Cook Gay, silakan boikot Facebook, karena Mark pun dukung LGBT. Munafik!

Ngomong-ngomong, kompetitor Starbucks itu Maxx Coffee milik James Riady kan? Hmm.. Semakin mencurigakan.

Starbucks tidak dapat disaingi. Lihat saja salah satu kompetitor Starbucks di Indonesia. Dengan logo yang mirip dengan Starbucks, Maxx Coffee milik Lippo Group, sangat sepi peminat dan cenderung tidak enak. Jadi, seruan ini sebenarnya adalah masalah keberpihakan. Hahaha.

Source link

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here