Home Nasional Kisah cinta sehidup semati Atang & Tini yang meninggal saat lebaran

Kisah cinta sehidup semati Atang & Tini yang meninggal saat lebaran

13
0
SHARE
Iklan by Don

Merdeka.com – Banyak orang berpikir bahwa cerita romansa menyentuh seperti cinta sehidup semati itu hanya dalam dongeng atau di film saja. Tapi kisah cinta semacam ini dialami juga pasangan asal Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Sejak mengucap janji suci pada Agustus 1963 silam, Atang Djumnan (78) dan sang Istri Tini Surtini (73) juga meninggal di hari yang sama, yakni saat umat muslim merayakan kemenangannya, Idul Fitri 1438 Hijriah. Keduanya menghadap Ilahi di rumah dan hari yang sama yakni, di Kampung Batugede RT01/RW02, Desa Cisaat, Kecamatan Kadungora, Kabupaten Garut, Senin (26/7).

“Orang tua saya meninggal hanya selisih 12 jam. Bapak saya meninggal jam setengah 12, dan ibu saya setengah 12 malam harinya,” kata ‎anak pertama Atang dan Tini, Yeyet Suswati (52) pada merdeka.com, Selasa (4/7).

Kedua orang tuanya itu kata dia, selama hidupnya selalu menunjukkan pasangan yang saling memberi dan mengasihi. Kakek nenek ini seperti pasangan yang tak pernah mau terpisahkan.

“Jadi inginnya bareng terus. Pernah dulu ke warung saja diikuti. Terus ibu lagi ngaji bapa itu nungguin di masjid. Ibu bilang bapak pulang saja, malu diikuti terus, tapi bapak mah engga apa-apa nungguin juga,” imbuhnya.

Kesetiaan yang ditunjukan itu terus berlanjut sampai tua dan akhir hayatnya. Bisa jadi menurutnya Allah SWT ingin menunjukan kembali bahwa memang kesetiaan itu tak pandang usia. “Ya buktinya orang tua saya. Hidupnya enggak mau kayaknya berpisah. Sampai sakitnya sama-sama dan meninggal juga di hari yang sama,” kisahnya.

Sampai-sampai dalam lingkungan kediamannya Atang dan Tini dikenal sebagai pasangan romantis.

Namun tidak ada yang bisa melawan takdir Ilahi. Pensiunan TNI itu meninggal setelah sebelumnya menjadi sakit karena istrinya. Atang melemah karena istrinya juga sakit. Keluarga dan warga yang ditinggalkan terkesiap.

“Ya sebenarnya istrinya yang sakit, sedangkan bapak sehat. Tapi karena ibu sakit, bapak ikut sakit. Dan kemudian bapak meninggal duluan. Kita semua kaget,” ujarnya.

‎Pernikahan Atang dan Tini selama 54 tahun dikaruniai tujuh orang anak. Kini Atang dan Tini sudah tenang dan damai bersanding kembali di TPU Kampung Batugede, Desa Cisaat, Kecamatan Kadungora, Kabupaten Garut. [bal]

Let’s block ads! (Why?)

Source link

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here